Senin, 8 Juni 2009

Sekapur Sirih

Masalah ketenagakerjaan sangat kompleks dan tidak terlepas dari dimensi ekonomis, dimensi social kesejahteraan dan dimensi social politik. Dari segi dimensi ekonomi, pengembangan ketenagakerjaan mencakup penyediaan tenaga – tenaga dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar kerja. Umtuk itu harus dibangun sistem pelatihan kerja, sIstem informasi pasar kerja dan sIstem antar kerja, baik secara lokal dan antar daerah, maupun ke luar negeri.

Besarnya populasi angkatan kerja yang tidak mendapatkan lapangan kerja atau terbatas kemampuannya dalam menciptakan lapangan kerja sendiri berpotensi menjadi faktor pemicu timbulnya ketegangan, konflik, dan masalah – masalah social, politik, dan ekonomi yang tentunya akan berdampak pada perkembangan situasi secara nasional.

Penempatan tenaga kerja ke luar negeri merupakan salah satu alternatif penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya pengadaan lapangan kerja bagi angkatan kerja produktif yang jumlahnya terus bertambah pada setiap tahunnya, sementara sisi lain lapangan kerja di dalam negeri tidk mampu menampung ledakan angkatan kerja usia produktif tersebut.

Pemerintah telah mengambil kebijakan bahwa pengiriman tenaga kerja ke luar negeri didorong menjadi industri jasa modern dengan mengirimkan tenaga terampil dan ahli yang mampu bersaing di tingkat global, khususnya dalam penguasaan kemampuan bahasa. Pengiriman tenaga kerja tang terampil akan menjaga nama  baik bangsa yang sering dilecehkan karena tenaga kerja yang dikirim tidak memiliki kompetensi dan daya tawar. Dengn mengirimkan tenaga kerja terampil, remitansi yang diperoleh Negara juga lebih tinggi, kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya lebih baik serta martabat bangsa dan Negara di luar negeri tetap terjaga.

Untuk itu, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus diupayakan terus meningkat baik dalam kuntitas maupun kualitas. Peningkatan kualitas akan berbanding lurus dengan peningkatan kuantitas. Calon tenaga kerja yang berkualitas, berkompeten dan berdaya saing, dengan sendirinya akan mendorong pengguna jasa untuk menggunakan calon pekerja dari Indonesia dan menjadi barometer penetuan quota bagi Indonesia.

Sehubungan dengan itu, maka penempatan tenaga kerja ke luar negeri harus mendapat perhatian yang sungguh – sungguh mulai dari proses seleksi dan perekrutan, program pelatihan, proses penempatan serta usaha pembinaan dan perlindungan di luar negeri. Khusus bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia yang akan bekerja ke Korea Selatan melalui Program G to G (Government to Government) dalam upaya memangkas panjangnya birokrasi pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Program ini salah satu diantaranya mewajibkan para calon tenaga kerja untuk mengikuti dan lulus Ujian Kemampuan Bahasa Korea Tingkat Dasar.

Menyikapi pentingnya persiapan dan pelatihan pra pemberangkatan bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia, Yayasan Pusat Pengembangan Sumber Daya Insani Global ( YPPSDI Global ) sebagai institusi yang bergerak dalam pendidikan dan pelatihan, merancang secara khusus Program Pelatihan Terpadu bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia dengan menekankan pada pelatihan bahasa dan AMT. Di samping itu, Global Language Center juga membuka pelatihan regular bagi siswa dan mahasiswa, peminat bahasa dan masyarakat umum yang ingin memiliki keterampilan praktis berbahasa asing.

Edi Edwar
Direktur

 

Selasa, 12 Mei 2009

Pembukaan Kelas Baru Pelatihan Bahasa Korea EPS KLT Angkatan I 2009

Global Language Center Pusat di Cianjur, kembali membuka pelatihan bahasa Korea untuk mengahadapi ujian EPS KLT berikutnya. pembukaan kelas baru ini merupakan Angkatan pertama di tahun 2009. Untuk informasi lebih lengkap hubungi :

Global Language Center

Jl. Raya Sukabumi no. 86 Warung kiara, Cianjur

Phone : (0263) 265527 - 5040494 contact person : Mayang & Meyta

denzuka@gmail.com

_____________________________________________________________________________

Senin, 11 Mei 2009

Soal Ujiannya Mudah Banget.......

Itulah ucapan yang muncul dari beberapa peserta ujian EPS KLT dari siswa Global Language Center. salah satunya Saiful Bahrii, siswa Global yang berasal dari Bogor. Bahri yang mengikuti pelatihan pada bulan November 2008 kemudian mengikuti program pemantapan tersebut mengatakan, bahwa Soal - soal yang muncul pada ujian kemarin ternyata soal- soal yang selalu dibahas. malahan dari hasil pemantapan selama sepuluh hari menjelang ujian tersebut yang diisi dengan pembahasan soal dalam bentuk simulasi ternyata, lanjut dia, hampir 70% nya masuk di soal ujian kemarin. "... alhamdulillah, saya bersyukur sekali" katanya. hanya saja, dia menyayangkan ada bebearapa peserta lainnya yang terlihat bertindak tidak sportif. seperti ada yang saling contek malah ada yang membawa HP segala. " ... saya tidak tahu apakah memang pengawasnya yang sengaja membiarkan" kata dia.

denzuka@gmail.com

_____________________________________________________________________________

Sabtu, 09 Mei 2009

Jumhur Yakin Indonesia Penuhi 5.000 TKI Korea

Solo BNP2TKI (9/5), Membaiknya perekonomian dunia, termasuk negara Korea Selatan diharapkan mampu meningkatkan permintaan dunia akan Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI). Saat ini, untuk tahun 2009, negeri gingseng ini meminta Indonesia mengirimkan 5.000 calon TKI. Diharapkan dengan membaiknya ekonomi dunia dan Korea, permintaan CTKI itu akan bertambah.

"Kepercayaan konsumen di Korea mulai tumbuh kembali terhadap Indonesia. Saya yakin kita mampu memenuhi permintaan 5.000 CTKI tahun ini," ujar Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Moh Jumhur Hidayat dalam sambutannya di hadapan 40 pengawas asal Korea dan 415 pengawas ujian Bahasa Korea (Korean Language Test), di Kampus Universitas Muhammadiyah, Surakarta, Sabtu (9/5).

Menurut Jumhur, seleksi Tes Bahasa Korea atau Korean Language Test (KLT) ini diikuti 41.756 orang peserta dari seluruh Indonesia. Jumlah peserta test KLT terbanyak di Universitas Muhammadiyah Surakarta sebanyak 14.321 calon TKI.

Kepala BNP2TKI mengungkapkan, di bawah kepemimpinan Presiden SBY, pemerintah Indonesia telah mampu bekerjasama dengan pemimpin-pemimpin dunia untuk menanggulangi krisis ekonomi global.

"Saya bisa lihat bahwa prediksi krisis membaik lebih cepat dari perkiraan sebelumnya," ungkap Jumhur, seraya mengatakan bahwa kepercayaan yang diberikan pemerintah Korea ini harus dimanfaatkan betul oleh para pengawas untuk bekerja dengan sebaik-baiknya.

Ia meminta agar jangan ada pihak-pihak yang mengiming-imingi CTKI bisa meloloskan tes, dan mencarikan kerja ke Korea.

“Tugas penempatan CTKI ke Korea ini sepenuhnya merupakan wewenang BNP2TKI,” tegasnya.

Pada kesempatan itu. Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof Bambang Setiaji mengatakan melalui tes Bahasa Korea ini, diharapkan bisa menepis praktek percaloan untuk CTKI Korea, khususnya di wilayah Surakarta dan Jawa Tengan umumnya.

Saksikan Test

Usai memberi sambutan, Kepala BNP2TKI langsung pelaksanaan Test Bahasa Korea (KLT) yang diikuti ribuan CTKI di aula kampus UMS.

Kepada wartawan, Jumhur meengatakan bahwa tes KLT ini dilaksanakan secara serempak di 6 kampus terkemuka di tanah air. Tingginya animo CTKI ke Korea dikarenakan tingginya upah pekerja di negeri tersebut, yaitu Rp 8,5 juta di luar jam kerja lembur. Selain itu, perlindungan hukumnya cukup baik dengan masa kontrak kerja selama 3 tahun.

Hadir pada pelaksanaan Tes Bahasa Korea (Korean Language Test) di Kampus UMS ini, Ketua KLT dari Korea, Park Chan Seop, Pejabat Tenaga Kerja Korea, Ju il Sung dan Lee Dun dari Kedutaan Korea Jakarta.

Sementara dari BNP2TKI, selain Moh Jumhur Hidayat juga hadir pula Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah Drs Wayan Mandi, Kepala BP3TKI Jawa Tengah AB Rachman, dan Kapuslitfo Benyamin Suprayogo. (zul)

Sumber : http://tki.or.id

_____________________________________________________________________________

 
 
 

Jumat, 08 Mei 2009

PESERTA UJIAN EPS KLT 2009 MEMBLUDAK

Jakarta, BNP2TKI (8/5), Sebanyak 41.756 orang calon tenaga kerja Indonesia (TKI) akan mengikuti tes kemampuan berbahasa Korea secara serentak di berbagai perguruan tinggi, Sabtu (9/5), sebagai syarat bekerja di Korea Selatan.Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) Wayan Mandi dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (8/5), menyatakan, setiap calon TKI wajib mengikuti tes bahasa Korea.Tes itu akan berlangsung di Universitas Pancasila (Jakarta), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Cirebon), Universitas Muhammadiyah (Surakarta), Universitas 17 Agustus (Surabaya), IKIP Mataram, dan Universitas Hasanuddin (Makassar).Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat dijadwalkan menyaksikan secara langsung pelaksanaan tes itu di Universitas Muhammadiyah (Surakarta).Pelaksanaan tes itu juga diawasi Pusat Bahasa Korea dari "Human Resources Development of Korea".Menurut Wayan Mandi, dalam tes itu akan dilihat kemampuan berkomunikasi calon TKI dengan bahasa Korea dalam kehidupan sehari-hari. Peserta yang lulus dalam tes itu, katanya, adalah yang mendapat nilai mulai 80 sampai 200.Menurut dia, meskipun para peserta telah lulus bahasa Korea bukan berarti mereka bisa langsung diterima bekerja di Korea Selatan karena masih ada persyaratan lain seperti kesehatan dan kelengkapan dokumen. (Ant)

Sumber : http://tki.or.id

______________________________________________________________________________

 

 

Yayasan Pusat Pengembangan Sumberdaya Insani

 

GLOBAL